Edisi Desember 2016

Biomassa merupakan sumber bahan baku yang sangat melimpah di negara kita, Indonesia. Sejak zaman dahulu, biomassa telah digunakan sebagai sumber energi lewat kayu bakar. Seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi, biomassa, khususnya selulosa, telah diproses dengan berbagai macam teknologi (hidrolisis, fermentasi, termokimia). Produknya tidak hanya berupa bahan bakar cair seperti bioetanol, gasoline, dan diesel, tetapi juga berbagai macam senyawa kimia seperti furfural, levulinic acid, adipic acid, succinic acid, dan lain sebagainya.

Senada dengan biomassa sebagai sumber bahan baku terbarukan, Majalah Teknik Kimia Indonesia Edisi Desember 2016 kali ini memuat artikel tentang katalis zeolit yang juga digunakan di dalam proses-proses konversi biomassa, gambaran umum proses pengolahan biomassa, pembangkit listrik tenaga surya, dan desain proses limbah minyak penggorengan menjadi biodiesel dengan membran reaktor berkatalis.

Artikel-artikel lainnya tentang biomassa dan pengolahannya dapat dilihat di website Teknik Kimia Indonesia.

Selamat membaca!

Read more

Gasifikasi limbah rumah tangga untuk menghasilkan kalor dan listrik

Teknologi gasifikasi telah digunakan di beberapa negara untuk mengolah sampah padat atau limbah padat rumah tangga (municipal solid waste atau solid recovered fuel). Hasil pengolahannya berupa listrik dan kalor. Kalor dihasilkan dalam bentuk air panas yang dialirkan ke pusat pemanasan kota (central district heating). Untuk lebih jelasnya, di bawah ini ada beberapa link yang dapat memperkaya wawasan kita, baik tentang teknologi gasifikasi dan pengolahan sampah padat perkotaan. 

Read more

Produk kimia dari biomassa yang bermasa depan cerah

Ada sebuah artikel menarik tentang produk-produk kimia yang diproduksi dari biomassa dan dianggap memiliki propek yang lebih menjanjikan. Artikel ini disajikan di biofueldigest. Tulisan lengkapnya ada di sini. Secara singkat, penulisnya menyatakan bahwa meskipun biomassa memiliki kapasitas potensial yang sangat besar, akan tetapi ada beberapa perbedaan mencolok yang membuat biomassa sulit bertanding dengan minyak bumi. Di antaranya adalah komposisi biomassa yang tidak seragam karena variasi jenis feedstock yang mencakup alga, limbah industri kayu, limbah industri pertanian, kayu pepohonan, dan lain-lain. Logistik biomassa (tersebar dalam radius yang sangat luas, memiliki volume yang besar) juga menghadirkan kesulitan tersendiri yang dapat membatasi keuntungan investasi biomassa di skala besar. Dengan segala kesulitan biomassa ini, penulisnya menargetkan beberapa produk kimia yang dianggap berprospek cerah. Produk-produk ini mesti memiliki pasar yang luas dan nilai yang jauh lebih besar daripada biomassa. Di samping itu, grup/perusahaan yang melakukan riset untuk pengembangan produk-produk tersebut mesti memiliki kemampuan teknikal dan finansial yang baik untuk mengkomersiilkan prosesnya. Mereka menuliskan dua kandidat terkuat dan dua kandidat penantang untuk produk kimia berbahan baku biomassa.

Read more

Pabrik Derivat Gondorukem dan Terpentin (PDGT)

Salah satu usaha anak bangsa untuk menunjukkan pada dunia jika Indonesia punya teknologi proses sendiri untuk mengolah sumber daya alamnya ditampilkan di Pabrik Derivat Gondorukem dan Terpentin (PDGT). Di kompleks ini terdapat empat pabrik yaitu pabrik gondorukem terpentin, pabrik fraksinasi terpentin (PFT), pabrik gliserol resin ester (PGRE), dan pabrik terpineol pinene (PTP). Untuk lebih detailnya, silahkan dibaca link berikut ini:

Artikel BUMN : Perum Perhutani Strategi Menjadi Pemain Dunia (PDGT-Pemalang)

 

Proses pengolahan dengan pelarut organic (organic solvent atau organosolv)

Proses ini pada awalnya dikembangkan sebagai proses alternatif untuk proses Kraft di industri pulp dan kertas. Salah satu proses komersial dengan pelarut organic ini adalah proses ALCELL dari Repap Enterprises Inc. (yang kemudian dibeli oleh UPM-Kymmene). Proses ini diterapkan di pabrik pulp dan kertas mereka di New Brunswick, Canada. Untuk skala kecil, proses ini lebih ekonomis dibandingkan proses Kraft, lebih sedikit isu lingkungan dan menghasilkan pulp berkualitas tinggi yang telah mengalami bleaching (31).

Read more