Teknologi Gasifikasi Untuk Biomassa – Bagian 1

Pengenalan

Gasifikasi biomassa menjadi gas sintesis (syngas) adalah salah satu teknologi yang digunakan di dalam konsep biorefinery. Syngas adalah bahan baku yang sangat flexible dan dapat digunakan untuk memproduksi senyawa kimia lain seperti methanol, ethanol, gas alam buatan, dan bahan bakar cair spt bensin dan diesel. Selanjutnya, senyawa seperti methanol jg merupakan bahan baku untuk membuat senyawa kimia lain seperti olefin, DME, aromatics, dan bensin. Oleh Karen ini, gasifikasi biomassa merupakan topic yang cukup menarik untuk dikupas.

Read more

Apakah biorefinery itu?

Kita tentu sudah sering mendengar tentang refinery atau lazimnya disebut sebagai pengilangan minyak bumi. Refinery menggunakan minyak bumi mentah (crude oil) sebagai bahan bakunya. Dari minyak mentah ini, diproduksilah berbagai macam produk bahan bakar seperti LPG, bensin dan diesel, aviation fuel, kerosene, heating oil, aspal, pelumas, dan berbagai macam produk campuran atau turunan lainnya.

Dengan meningkatnya jumlah konsumsi minyak bumi lewat bertambahnya jumlah penduduk dan aktivitas manusia, salah satu permasalahan yang muncul adalah meningkatnya jumlah gas-gas rumah kaca di atmosfir seperti CO2 (yang paling populer). Akibatnya, kita semua tahu sendiri.

Salah satu upaya untuk setidaknya meredam laju kenaikan jumlah gas-gas ini, berbagai riset mengenai energy terbarukan sangat gencar dilakukan akhir-akhir ini. Salah satu di antaranya adalah ide tentang biorefinery. Biorefinery secara sederhana juga berfungsi seperti refinery di atas. Hanya saja, bahan bakunya berasal dari biomassa. Lebih tepatnya, lignocellulosic biomass. Dari bahan baku ini kita juga bisa menghasilkan bahan bakar utama seperti bensin, diesel, heating oil, dan aviation fuel. Dan juga berbagai produk kimia yang bisa digunakan untuk membuat produk-produk kimia turunan lainnya.

Read more

Karbon Dioksida: Kawan atau Lawan?

Oleh: Anatta Wahyu Budiman

Karbon dioksida (CO2) merupakan komponen terbesar bertanggungjawab atas peningkatan suhu bumi atau apa yang oleh para ahli disebut sebagai global warming effect. Meski sebagian ilmuan masih meragukan teori tersebut, namun fakta bahwa konsentrasi gas rumah kaca yang meningkat dari tahun ketahun dan suhu bumi yang terus meningkat adalah dua hal yang tidak bisa kita pungkiri. Selama satu milenium terakhir konsentrasi gas karbon dioksida meningkat sebanyak 1.5 ppm pertahun yang artinya apabila terdapat total 5.3 x 1021 gram udara di atmosfir, maka peningkatan jumlah karbon dioksida pertahunnya mencapai sekitar 8 ton pertahun.1 Hal ini mungkin disebabkan oleh ketidakseimbangan antara peningkatan gas buang industri dan penggunaan bahan bakar minyak terhadap peningkatan jumlah pepohonan di dunia.

Read more

Sustainability: mata rantai yang terputus

Oleh: Yuli Amalia Husnil

Tahun 1969, Amerika Serikat

Mobil-mobil berukuran besar berseliweran di jalanan, pendingin ruangan dinyalakan hampir di tiap rumah untuk mengalahkan cuaca terik di luar dan permintaan daya listrik industri meningkat seiring bertambahnya kapasitas produksi. Sementara itu produksi minyak dalam negeri menurun bersamaan dengan bertambahnya ketergantungan pada minyak impor. Harga minyak mentah yang melompat naik serta embargo minyak yang dicetuskan oleh negara-negara di jazirah Arab pada tahun 1973 menjadi penanda resmi bahwa AS tengah dilanda krisis energi.

Read more